Udang pembersih (Lysmata amboinensis) adalah salah satu spesies umum penghuni ekosistem terumbu karang di daerah Indo-Pasifik. Decapoda ini adalah omnivore yang memiliki kebiasaan unik : membersihkan mulut kliennya dari jaringan mati dan parasit.
Beberapa dari kliennya adalah moray eel, ikan wrasse, dan dalam foto diatas, guide diver kami saat di Tulamben, Bali. Lysmata terkadang membuka “cleaning station”, dimana si udang ini mangkal menunggu klien. Bahkan terkadang terjadi antrian klien.
Bentuk simbiosis antar Lysmata dan kliennya adalah mutualisme, si udang dapat makanan, si klien mulutnya bersih. Bagaimana alam bisa mendorong terjadinya simbiosis ini, masih misteri. Karena bentuk simbiosis seperti ini membutuhkan tingkat kepercayaan antar spesies yang sangat tinggi. Besar kemungkinan ada yg berkhianat : si klien malah makan si udang atau si udang malah menggigit daging mulut klien. Atau mungkin saja ada spesies yang meniru (mimikri) salah satu dari mereka untuk mengambil keuntungan.
Bagaimanapun, begitulah terjadinya: sudah ada kesepakatan umum bagi Lysmata dan kliennya untuk tetap bersimbiosis mutualisme. And they live happily ever after: Lysmata with full stomach, clients with clean mouth
Arsip Kategori: makhluk (underwater)
Ikan Badut / Amphiprioninae
Ikan badut (sub famili Amphiprioninae) terkenal karena beberapa hal : simbiosisnya dengan anemon laut dan (tentu saja) film finding nemo
Beberapa hal unik dari ikan ini :
1. simbiosisnya : anemon melindungi ikan badut dari pemangsa. ikan badut karena warnanya cerah dan menarik, menjadi umpan bagi ikan lain, agar anemon mudah menjerat mereka dan menagkap makanan (yup, anemon makannya ikan, kepiting juga kadang2)
ikan badut memiliki 2 mekanisme adaptasi untuk ini : resistensi terhadap racun anemon, dan mucus (lendir) dengan substansi dasar gula, sehingga tidak memicu nematocys anemon beraksi menyuntikkan racun (anemon bereaksi pada mucus ikan umumnya yg bersubstansi protein)
2. struktur sosialnya yang unik. dalam 1 kawanan ikan, yg terbesar adalah betina, yg kedua terbesar adalah jantan, sisanya tidak berkelamin (alat kelaminnya tidak berkembang). bila betina mati, jantan akan menjadi betina, dan ikan aseksual terbesar akan menjadi jantan. struktur ini sangat ketat dan tidak dapat diganggu gugat.
3. bentuknya yang lucu, sampai dibuat menjadi film oleh disney pixar~ padahal film itu berpesan, bahwa ikan lebih “senang kembali ke laut daripada di aquarium”, terbukti dari nemo yg mau pulang ke ayahnya, dan ikan2 lain yg mencoba melarikan diri dari akuarium si dokter gigi. tapi akibat dari film ini? kebanyakan orang tidak menangkap pesannya. ikan badut laris manis di pasaran, sampai2 breeder tidak mampu memenuhi permintaan, dan terpaksa mengambil dari alam. Dampak negatifnya : populasi ikan ini menurun drastis.
2 foto ini didapat dari trip awal juli kemarin ke karimun jawa. berbekal hp nokiyem 3720 classic dan dicapac uncerwater case, plus tag dive mpe kedalam beberapa meter, didapatlah foto ini. A. ocellaris yg tinggal di anemon ini hanya terdiri dari 2 ekor, sementara A. clarkii ada 3 ekor. yg difoto, adalah yg terbesar (kemungkinan betinanya) dan sangat agresif (teman saya digigit akibat terlalu bersemangat)~ agresi ini ditujukan juga pada hp saya, dan didapatlah foto muka garangnya A. clarkii (walopun tetap imut)
Simbiosis Kleptoplasty
Siput Hijau (Elysia chlorotica) dan Alga Hijau (Vaucheria litorea)
Kleptoplasty (secara harafiah artinya “mencuri plastida”) adalah simbiosis dimana plastida alga dimanfaatkan oleh organisme lain. Alga umumnya dikonsumsi oleh suatu organisme, sel alga didegradasi, kecuali plastidanya. Plastida ini tetap berfotosintesis dan hasilnya dimanfaatkan oleh organisme tersebut.
Contoh simbiosis kleptoplasty yaitu antara Elysia chlorotica dan Vaucheria litorea. Elysia chlorotica adalah spesies siput laut yang menyedot getah dari alga Vaucheria litorea. Siput yang hidup di daerah lautan Atlantik ini terkenal karena kemampuannya untuk berfotosintesis. Saat mencerna sel alga, semua bagian sel didegradasi kecuali kloroplasnya. Kloroplas ini kemudian masuk ke sel-sel tubuh siput, dan siput dapat berfotosintesis. Hal ini sebenarnya umum terjadi pada dinoflagellata atau ciliateadimana kloroplas selama berada di tubuh pemangsa, akan tetap berfotosintesis dan dimanfaatkan hasilnya.
Yang berbeda dari Elysia chlorotica adalah kemampuannya untuk menjaga kloroplas hingga lebih dari 10 bulan, sedangkan pada organisme lain, hanya sekitar beberapa hari. Gen pada kloroplas tumbuhan hanya mampu mengkode 10% dari protein yang dibutuhkan kloroplas tersebut, sehingga tanpa bantuan dari bagian sel yang lain, dalam beberapa hari kloroplas akan mati. Penelitian lebih lanjut menemukan bahwa Elysia chlorotica telah melakukan transfer gen horizontal dari Vaucheria litorea. Dalam genom Elysia chlorotica, ditemukan sekuen DNA yang menghasilkan klorofil serta protein-protein pendukung kloroplas, sehingga kloroplas dapat dipertahankan selama berbulan-bulan.
Gen ini juga diwariskan oleh Elysia chlorotica ke keturunannya. Namun, anakan Elysia chlorotica belum mampu berfotosintesis, karena gen ini hanya mencakup sintesis klorofil dan sintesis protein-protein pendukung, tanpa ada gen yang mampu mensistesis kloroplas. Anakan Elysia chlorotica akan mampu berfotosistesi setelah “mencuri” cukup kloroplast dari alga.
Sumber
http://en.wikipedia.org/wiki/Elysia_chlorotica
http://en.wikipedia.org/wiki/Kleptoplasty
http://www.digitaljournal.com/article/285735
http://www.msnbc.msn.com/id/34824610/ns/technology_and_science-science/
http://www.newscientist.com/article/dn16124-solarpowered-sea-slug-harnesses-stolen-plant-genes-.html


