Wawancara Fulbright

Banyak website yang sudah memberi tips wawancara beasiswa, seperti ini dan ini. Jadi post ini bukan tentang bagaimana lolos wawacara, tapi ke pengalaman saya sendiri saat diwawancara untuk beasiswa PhD Fulbright pada April 2017 lalu.

Kalau ada yang belum tau, beasiswa Fulbright itu adalah beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat, targetnya macem-macem dari guru SMA, mahasiswa pertukaran, Master, PhD, Reseacher dll.

Karena pengen lanjut S3, dan kebetulan saya emang sudah diterima di University of Oregon untuk penelitian kebakaran hutan di Indonesia, dan juga tunangan saya sedang kerja di Amerika, maka saya memasukkan lamaran untuk beasiswa Fulbright pada Januari 2017. Administrasinya masih lewat post (tidak seperti Erasmus Mundus dulu yang serba online), dan pada bulan Januari amplop lamaran pun terkirim.

Pada bulan Maret, saya menerima email bahwa lolos tahap administrasi, dan dikabarkan akan wawancara pada tanggal 21 April 2017. Tabrakan dengan jadwal saya menghadiri konferensi mangrove di Bali. Akhirnya nego dengan panitia konferensi, karena jadwal saya sebagai speaker pada tanggal 19 April, tanggal 21 saya boleh bolos, dengan catatan uang saku dari panitia dipotong (60$..hiks lumayan juga). Saya nego juga dengan pihak AMINEF (organizer Fulbright di Indonesia) agar wawancara saya ditaruh paling siang.

Tanggal 20 malam, saya naik penerbangan terakhir dari Bandara Ngurah Rai, Air Asia yang murah (soalnya panitia hanya akan reimburse seharga tiket Jogja-Jakarta – karena domisili saya di Jogja, mereka tidak mau reimburse kelebihan harga kalau terbang dari lokasi lain). Dan sampai di Bandara Soetta jam 1 pagi. Saya pun tidur di kursi emperan bandara. Jam 5 saat Bus Damri sudah jalan, saya menuju ke Jakarta, sarapan bubur dan mampir dulu di Kementerian Pendidikan buat ambil dokumen pengesahan ijazah (sambil numpang boker + mandi di gedung DIKTI), lalu naik gojek ke Gedung AMINEF, sampai disana sekitar jam 9:30. Karena mandi di WC seadanya, dan sehabis tidur di emperan, praktis saya kucel. Ketika masuk ruang tunggu, sudah ada beberapa orang, dan semuanya berpakaian rapi sekali, ada yang pake jas juga. Saya kucel sendiri, bersepatu gunung, pakai celana kain dan batik seadanya. Biar nggak kucel-kucel amat saya ke kamar mandi, ngegulung rambut biar kayak sanggul KW, dan latihan perkenalan dikit-dikit biar nggak gugup.

Ternyata wawancaranya berjalan lamban, dan sembari menunggu saya ngobrol-ngobrol dengan para calon Fulbrighter, salah satunya adalah mbak Viqi, dosen dari Airlangga Surabaya. Kandidat lainnya ada beberapa, tapi lupa semua namanya. Karena saya minta terakhir dan wawancaranya mulai agak telat, jatah saya maju sekitar jam 12:30. Udah laper tapi ndak berani keluar buat makan. Mana tiba-tiba ada abang GoFood nganter makanan buat pegawai AMINEF, tapi kita yang nunggu wawancara kelaparan.

Akhirnya 12:40an saya masuk, dan pewawancaranya ada 3. Satu bapak dari Amerika (Dosen UI kalau gak salah), dan 2 ibu (lupa dosen mana, tapi satunya masih cicik-cicik muda banget tapi udah Dekan). Ada 1 moderatornya dari AMINEF. Begitu masuk, diberi kesempatan untuk perkenalan singkat selama 1-2 menit. Saya pun memperkenalkan nama, asal, pekerjaan, dan tujuan riset. Lancar, karena tadi latihan di WC.

Kemudian saya disuruh duduk, dan mulai ditanya-tanya oleh panelis. Kira-kira beginilah pertanyaan dan jawaban yang saya ingat.

Ada pertanyaan yang berbasis formulir pendaftaran, intinya nanya-nanya negara yang sudah dikunjungi, karena di formulir pendaftaran kita menuliskan negara yang sudah dikunjungi:

What did you do in your previous study, why so many countries? – I explained about my master under Erasmus Scholarship, and which country I visited during the program.

What did you do in Kenya? – I explained about grant from Belgian Government to attend 10 days training and Kenya and I trained them on drone mapping too.

Lalu ada pertanyaan klise tentang kerjaan dan masa depan:

What are the challenges in your job as university lecturer? How you overcame it? – I explained about despite of your best effort, there will be 1-2 lazy students which might be disheartening, but then you have to realized as long as the majority of the class was studied well, then it is OK. You cannot please everyone.

Where do you see yourself in 10 years? – Working in tenure track in Atma Jaya Yogyakarta, which where I am working now. And doing research and community project regarding carbon project and climate change mitigation.

Pertanyaan tersebut gampang, karena sudah latihan dan muncul di banyak artikel tips. Lalu saya dapat pertanyaan yang bikin kagok dikit:

What is the difference between master and PhD? – PhD is a deeper study compared to Master? (WRONG! The panels were not seems pleased, so I tried again) – in PhD you are expect to find new theory or novel science method, or answering fundamental scientific question? (yep they were happy with it). 

Lalu malah dilanjutkan : What kind of novelty you expect to find in your PhD? – In my case, I want to find about the cause of Forest Fire in Borneo, whether it is natural, likes in the African savanna or Brazilian Chapparal, or it is human induced. And by using the method in my proposal we can find historical records at least 10.000 years back bla bla dan seterusnya sesuai proposal.

Lalu pertanyaan penutup yang agak ajaib:

How did adapt with a new social environment with people from various background and nationality? – Well from my previous experience, a quick way to bond and exchange culture (I used this words because it is mention a lot in Fulbright), is to cook and eat together.

Dan berakhirlah wawancara tersebut. Ngerasa jawaban terakhir ngaco banget, dan nggak yakin bakal lolos. Jadi yasudahlah. Tapi akhirnya, bulan Juli pas sebelum Lebaran, dapat email kalau saya ternyata lolos. OK, USA, here I come.

 

 

 

 

 

 

Iklan

Cerita tentang Beasiswa Master Tropimundo (Tropical Biology) Part 1

Lama tidak menulis blog setelah saya lulus S1 Biotechnology…

Setelah lulus, saya kerja sebagai volunteer di Yayasan LINI Bali, sambil ngelamar beasiswa buat S2, dengan impian: pengen dapat beasiswa keluar negeri. Kerjaan yang asik, banyak berinteraksi dengan nelayan langsung, survey sampe akhirnya nginjak Raja Ampat, kenalan dengan ilmuwan2 n volunteer dari luar negeri.

Awalnya ngelamar di AusAID buat marine biology, dan udah ngarep banget. Pas Oktober 2013 dapat surat penolakan. Kecewa, tapi sadar diri juga karena AusAid targetnya kan lebih ke PNS sama yg udah pengalaman kerja, sementara saat ngelamar saya masih freshgraduate.

Korek-korek internet, cari beasiswa yang lagi buka, ketemu ini: http://www.tropimundo.eu/

Pas, buka beasiswa untuk biologist, dan penutupan pun tinggal sebulan lagi. Alhasil saya kalang kabut, mana lagi tugas di desa nelayan di Buleleng, internet susah. Modal internet yang sinyalnya sering cuma EDGE, saya pun mendaftar. Mengisi formulir lewat HP. Syukurnya saya udah punya sertifikat TOEFL, passport dan scan dokumen2 lain yg diperlukan.

Salah satu syarat yang paling ribet adalah: kita gak diwawancara, tapi mereka minta 3 orang reccomendator dari bidang akademia atau professional buat diwawancara. Orang pertama, tentu dosen pembimbing skripsi. Orang kedua, Wakil Rektor kampus yg juga dosen ekologi. Orang ketiga? Bingung, antara bos tempat kerja, volunteer expert aquarist dari australia atau siapa.. Tetapi karena bidang akademia lebih diutamain, akhirnya ane minta tolong professor dari USA yg lagi kerja bareng penelitian di Buleleng. Terkumpul sudah 3 orang yg akan menentukan nasib.

Tapi tentu setelah ditolak AusAid, saya gak berharap banyak. Jadi bawaannya selow aja. Eh tau-tau 22 Desember 2013 dapat ucapan selamat keterima untuk program dan beasiswa, dan ucapan selamat Natal. Kalimat terakhir dari koordinator beasiswanya ane masih inget: be ready to pack for Europe!

Saya akan berangkat pada September 2014. Jadi kalau keterima tahun ini, mulainya tahun depan. Sementara tetap ngelanjutin kerja.

Sebelum berangkat, harus melewati proses pembuatan visa yg melelahkan. Sempat ketipu juga karena pake jasa calo, karena waktu harus ngurus saya sedang tugas ke Maluku dan Papua, sama waktu itu mau mendaki Rinjani.

Bikin SKCK aja udah repot, saat itu minta tolong Ayah yang di Kalimantan untuk buat SKCK Polda buat lanjut ke Polri, dan saya harus scan sidik jari. Untuknya bisa scan di Jayapura, dan SKCKnya diterbitkan di Polda Kalbar.

Setelah resign kerja, saya pun buru-buru mengurus semua dokumen, 3 minggu wara-wiri di Jakarta sampai hapal jalur Busway (Thanks Komuta apps).

1 minggu untuk mengejar calo yang masih pegang ijazah ane, ini drama banget. Untungnya ane numpang di rumah sohib ane yang Ayahnya orang TNI AU, keder deh tu calo pas ane diantarin buat kerumah calonya. Besoknya ijazah ane buru2 dibalikin meski uang gak kembali. Waktu itu sampe nangis sama kegoblokan sendiri kenapa percaya calo. Peringatan buat temen-temen, kalo ngurus administrasi janganlah calo-caloan. Mending usrus sendiri

2 minggu selanjutnya persiapan sendiri buat visa:  SKCK di Polri (cuma perlu 2 jam), Legalisir ijazah dan transkrip nilai : lewat DIKTI (3 hari), lanjut ke Kemenkumham (3hari), lanjut ke Kemenlu (2 hari), Proses di Kedubes Belgia (sehari).

Untungnya ada barengan teman dari Jakarta yg dapat beasiswa bidang komputer dan ke Belgia juga, jadi ada yang ngurusin tiket. Oya, tiket dan ngurus visa harus bayar sendiri, kalo udah sampai di Eropa nanti diganti. Jadi sebelum berangkat harus menukar Rupiah ke Euro dulu di Jakarta.

Nilai beasiswa, kalau dirupiahin berasa fantastis:

  • Uang kuliah 2 tahun 16.000 EUR
  • Uang idup (kost ma makan) 1000 EUR/bulan selama 2 tahun = 24.000 EUR
  • Uang jalan tiap semester 2000 EUR = 8.000 EUR

Total 48.000 EUR. Kalau dirupiahin sekitar 700juta. Eh buset, saya kerja volunteer aja gaji 1,5 juta sebulan. Mendadak berasa kaya, udah ngebayangin kalau 700 juta itu ditukerin 1000 rupiah kertas, bisa disusun buat jadi kasur. Meskipun nyatanya 1000 EUR di Eropa itu standar idup anak kost Jogja.

Lebih asik lagi, belajarnya tentang tropical ecology. Trayeknya semester pertama di Belgia, semester kedua mestinya di Kamerun (karena berbagai isu akhirnya dialihkan ke Malaysia), dan sekarang semester 3 di Italy. Semester depan balik ke Belgia.

12 September akhirnya saya berangkat, dilepas sama pacar di Soekarno-Hatta. LDR deh. Masih bertahan dan menguat sampai sekarang ❤ gak penting ih

Ini kali pertama ane keluar dari batas NKRI. Syukurlah teman ane bukan kali pertama keluar negeri, jadi ane ngikut aja, sehingga gak perlu terlihat sepok/kampungan/ndeso.  Pesawat internasional ajib banget, kayak ayam pedaging tiap 4 jam dikasih makanan bergizi dan enak. Minuman free flow, dingin jadinya bolak-balik ke WC. Tiap angku ada TV buat nonton film. Pramugaranya kyk butler, bapak2 tua pake jas. Sementara ane pake baju gembel, tapi dilayanin dengan ramah dan senyuman.

Akhirnya mendarat di Belgia. Hal pertama: dingin. Hal kedua: kita salah jalan menuju penginapan, nyeret koper berat dan kelelahan. Disitu saya merasa sedih. Hal ketiga: ada mbak-mbak bule kekar yang bantu nyariin arah dan nyeretin koper, jadi stigma orang Eropa itu individualis dan gak suka menolong itu salah. Hal keempat: apartemen tempat kami tinggal lagi tengah proses pertukangan, dan blok saya mati lampu. Akhirnya tidur di kamar teman pakai sleeping bag.

Sekian dulu pengalaman sampai menjejak tanah Eropa~

 

 

 

 

 

 

 

Blog ini ternyata rame juga~ terima kasih para praktikan

Udah hampir setahun nggak buka Blog ini, ternyata masih aja rame pengunjungnya. Mayoritas pasti praktikan yang mau buat laporan praktikum! Iya kan? huahahahahahah

Awalnya saya hanya membuat blog ini untuk posting isi laporan praktikum saya. Eh gak nyangka malah jadi lumayan ramai pengunjungnya. Padahal sebenarnya nilai praktikum saya nggak pernah bagus.

Praktikum buat saya adalah kegiatan yang kontradiktif. Menjalaninya seru, bikin laporannya mual. Biasanya bikin laporan pasti menjelang deadline, dan bergadang, karena alasan yang simple: malas mengerjakannya. Dan laporan itu pun hanya akan diprint, dinilai, dijilid kemudian ditimbun di kost.

Daripada tulisan panjang yang telah saya buat (serius lho panjang, kalau laporan praktikum selama S1 itu ditumpuk, tingginya lebih dari setengah meter, mengalahkan draft buku Harry Potter atau A Song of Ice and Fire) – berjamur dan hilang, lebih baik saya bagi di dunia maya.

Tapi percayalah, laporan praktikum itu ada gunanya juga…. bagi yang ingin menjadi dosen atau peneliti. Referensi praktikum paling diwajibin 5, tapi kalo dah nulis jurnal paling nggak 10, bahkan bisa berpuluh-puluh. Well, diluar profesi itu sebenanrnya saya lebih suka membuat tulisan santai tanpa perlu bahasa baku dan harus mencantumkan nama orang dibelakangnya.

Dan bila ternyata para praktikan sekalian di masa depan gak berminat jadi dosen atau peneliti, kan lumayan laporannya bisa jadi ganjalan pintu. Yang jelas saat kalian lulus dan melihat jilid-an laporan kalian ditumpuk, pasti akan kaget dan kagum sendiri : “Gilak! setebal ini eyke yang nulis?!! Sumpe lo brooow?!”. Perasaan yang menakjubkan.

Mekanisme Resistensi Bakteri

Ada beberapa mekanisme resistensi bakteri terhadap antiobiotik, antara lain :

  1. Mengurangi Permeabilitas, yaitu dengan mencegah antiobiotik masuk ke dalam sel. Dapat dilakukan dengan mengubah struktur membran. Contohnya adalah resistensi Pseudomonas aeruginosa terhadap penicillin
  2. Inaktivasi antibiotik, yaitu dengan memiliki enzim khusus yang akan memodifikasi antibiotik, sehingga antibiotik tidak berbahaya lagi bagi si bakteri. Contohnya adalah resistensi Staphylococcus aureus terhadap chloroamphenicol.
  3. Mengubah tempat antibiotik menempel (berikatan), yaitu dengan mengubah tempat dimana biasanya antibiotik akan membentuk ikatan kimia lalu merusak bakteri. Dengan mengubah binding site ini, antibiotik tidak bisa menempel, dan tidak memiliki efek pada bakteri. Contohnya adalah Staphylococcus aureus mengubah PBP (penicillin binding protein).
  4. Mengubah jalur metabolisme, yaitu dengan mengganti atau tidak memakai lagi suatu bahan intermediate dalam reaksi metabolisme yang diganggu oleh antibiotik. Contohnya beberapa bakteri sulfoamida-resisten tidak memakai lagi PABA (para amino benzoat acid) dalam jalur sintesis asam folatnya, karena PABA dapat dihambat oleh antibiotik. Bakteri ini menggunakan preformed-folic-acid sebagai gantinya.
  5. Memompa (efflux), yaitu dengan mengembangkan protein pump khusus pada membrannya untuk memompa antibiotik keluar sel. Contohnya resistensi Bacillus subtilis dan Staphylococcus aureus terhadap tetrasiklin.

Cleaner Shrimp: Lysmata amboinensis

Udang pembersih (Lysmata amboinensis) adalah salah satu spesies umum penghuni ekosistem terumbu karang di daerah Indo-Pasifik. Decapoda ini adalah omnivore yang memiliki kebiasaan unik : membersihkan mulut kliennya dari jaringan mati dan parasit.
Beberapa dari kliennya adalah moray eel, ikan wrasse, dan dalam foto diatas, guide diver kami saat di Tulamben, Bali. Lysmata terkadang membuka “cleaning station”, dimana si udang ini mangkal menunggu klien. Bahkan terkadang terjadi antrian klien.
Bentuk simbiosis antar Lysmata dan kliennya adalah mutualisme, si udang dapat makanan, si klien mulutnya bersih. Bagaimana alam bisa mendorong terjadinya simbiosis ini, masih misteri. Karena bentuk simbiosis seperti ini membutuhkan tingkat kepercayaan antar spesies yang sangat tinggi. Besar kemungkinan ada yg berkhianat : si klien malah makan si udang atau si udang malah menggigit daging mulut klien. Atau mungkin saja ada spesies yang meniru (mimikri) salah satu dari mereka untuk mengambil keuntungan.
Bagaimanapun, begitulah terjadinya: sudah ada kesepakatan umum bagi Lysmata dan kliennya untuk tetap bersimbiosis mutualisme. And they live happily ever after: Lysmata with full stomach, clients with clean mouth

Ikan Badut / Amphiprioninae

Amphiprion clarkii

Amphiprion clarkii

Ikan badut (sub famili Amphiprioninae) terkenal karena beberapa hal : simbiosisnya dengan anemon laut dan (tentu saja) film finding nemo

Beberapa hal unik dari ikan ini :

1. simbiosisnya : anemon melindungi ikan badut dari pemangsa. ikan badut karena warnanya cerah dan menarik, menjadi umpan bagi ikan lain, agar anemon mudah menjerat mereka dan menagkap makanan (yup, anemon makannya ikan, kepiting juga kadang2)

ikan badut memiliki 2 mekanisme adaptasi untuk ini : resistensi terhadap racun anemon, dan mucus (lendir) dengan substansi dasar gula, sehingga tidak memicu nematocys anemon beraksi menyuntikkan racun (anemon bereaksi pada mucus ikan umumnya yg bersubstansi protein)

2. struktur sosialnya yang unik. dalam 1 kawanan ikan, yg terbesar adalah betina, yg kedua terbesar adalah jantan, sisanya tidak berkelamin (alat kelaminnya tidak berkembang). bila betina mati, jantan akan menjadi betina, dan ikan aseksual terbesar akan menjadi jantan. struktur ini sangat ketat dan tidak dapat diganggu gugat.

3. bentuknya yang lucu, sampai dibuat menjadi film oleh disney pixar~ padahal film itu berpesan, bahwa ikan lebih “senang kembali ke laut daripada di aquarium”, terbukti dari nemo yg mau pulang ke ayahnya, dan ikan2 lain yg mencoba melarikan diri dari akuarium si dokter gigi. tapi akibat dari film ini? kebanyakan orang tidak menangkap pesannya. ikan badut laris manis di pasaran, sampai2 breeder tidak mampu memenuhi permintaan, dan terpaksa mengambil dari alam. Dampak negatifnya : populasi ikan ini menurun drastis.

2 foto ini didapat dari trip awal juli kemarin ke karimun jawa. berbekal hp nokiyem 3720 classic dan dicapac uncerwater case, plus tag dive mpe kedalam beberapa meter, didapatlah foto ini. A. ocellaris yg tinggal di anemon ini hanya terdiri dari 2 ekor, sementara A. clarkii ada 3 ekor. yg difoto, adalah yg terbesar (kemungkinan betinanya) dan sangat agresif (teman saya digigit akibat terlalu bersemangat)~ agresi ini ditujukan juga pada hp saya, dan didapatlah foto muka garangnya A. clarkii (walopun tetap imut)

 

 

Amphiprion ocellaris

Amphiprion ocellaris