BioPlastik

Sejak ditemukan oleh Baekeland pada tahun 1909, plastik yang awalnya hanya digunakan untuk kepentingan Perang Dunia Pertama, mulai diproduksi secara massal. Jenis-jenis plastik pun bertambah, awalnya hanya bakelit (dinamai sesuai penemunya) yang berkarakteristik keras dan stabil, menjadi beragam seperti polistirena yang berbentuk gabus, PVC yang digunakan untuk peralatan rumah tangga dan nilon yang digunakan untuk bahan pakaian. Produksinya juga berkembang secara luar biasa, dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun.

Salah satu bentuk plastik yang sering kita gunakan adalah kantong plastik. Kantong plastik merupakan hasil penemuan Sten Gustaf Thulin, seorang ilmuwan Swedia. Dia mengembangkan ide untuk membuat kantong yang simpel, ringan, kuat, dan praktis yang terbuat dari plastik. Penemuannya kemudian dipatenkan oleh perusahaan Celloplast pada tahun 1965. Tahun 1980-an, dua supermarket terbesar di Amerika, Saveway dan Kroger mulai mengganti penggunaan kantong kertas dengan kantong plastik. Sejak saat itu kantong plastik menjadi alat pembawa yang umum digunakan di seluruh dunia. Sekarang, setiap tahun sekitar 500 milliar sampai 1 triliun kantong plastik dipakai di seluruh dunia. Karena hanya digunakan untuk sekali pakai dan sifatnya yang tidak dapat terdegradasi, maka kantong ini kebanyakan menjadi limbah dan kemudian menimbulkan masalah bagi lingkungan.

Plastik merupakan bahan yang sangat sulit terurai oleh lingkungan. Plastik dapat pecah dan lapuk karena sinar ultraviolet dan proses-proses fisik yang terjadi di alam, tapi bukan berarti plastik benar-benar hancur. Plastic tersebut hanya menjadi plastik yang lebih kecil dan semakin kecil dan akhirnya dapat menyusup ke rantai makanan. Proses pelapukan plastik pun melepaskan berbagai bahan berbahaya seperti PCB dan dioksin. Plastik yang mengalir bersama limbah lainnya ke laut, terapung-apung dan sering disalahpahami oleh hewan sebagai plankton atau ubur-ubur. Banyak hewan pemangsa memakan plastik dan mengalami keracunan. Plastik juga tidak dapat dicerna dan menyangkut di saluran pencernaan, sehingga setelah membunuh seekor hewan, plastik tersebut tidak rusak dan dapat membunuh hewan lain lagi dan lagi.

Sejak munculnya kesadaran akan pencemaran lingkungan, bermunculan berbagai solusi, misalnya 3R (reduce, reuse dan recyle). Sayangnya daur ulang plastik tidak mencapai 30% dari total plastik yang diproduksi. Hal ini berarti kita terus menerus melepaskan limbah yang berbahaya, konsisten dan tidak dapat terurai ke lingkungan. Plastik harus berhenti diproduksi, dan harus ditemukan bahan lain sebagai penggantinya. Oleh karena itu, sejak tahun 2004 mulai dikembangkan bioplastik, yaitu plastik yang terbuat dari senyawa organik dan strukturnya memungkinkan untuk terurai.

Jenis-jenis Bioplastik

1.      Plastik berbahan dasar amilum, disebut juga Plastarch, adalah bioplastik yang paling luas digunakan, mendominasi 50% pasar bioplastik. Plastarch ini terbuat dari amilum, yang dalam bentuk murni sering digunakan sebagai kapsul obat. Amilum ditambahi dengan bahan fleksibiliser dan plastikeser seperti sorbitol dan gliserin sehingga amilum menjadi bersifat termoplas (lebur dan dapat dibentuk pada suhu tinggi, mengeras dan stabil pada suhu sedang)

2.      Plastik PLA (asam polilaktat) adalah plastik transparan yang diproduksi dari gula tebu atau glukosa. Sifat plastik PLA ini mirip dengan plastik petrokimia yang konvensinal, seperti PE dan PP, sehingga dapat diproduksi dengan alat-alat pabrik plastik standar yang sudah ada. Plastik PLA umumnya digunakan untuk membuat kantong pembungkus, botol minuman dan cangkir.

3.      Poli-3-hidroksibutirat (PHB) adalah polyester yang dibuat dari amilum atau glukosa yang dihasilakn oleh bakteri tertentu. Karakteristiknya serupa dengan petroplastik polipropilene (PP). PHB memiliki titik lebur lebih dari 130oC dan dapat terbiodegradasi tanpa sisa.

4.      Genetically modified (GM), masih merupakan tantangan bagi industri bioplastik. Salah satu percobaan adalah menggunakan jagung yang dimodifikasi. GM bioplastik masih dalam tahap pengembangan

Produksi Bioplastik

Produksi dan penggunaan bioplastik umumnya dianggap sebagai aktivitas yang lebih berkelanjutan dibandingkan dengan produksi plastik dari minyak bumi (petroplastic), karena kurang bergantung pada bahan bakar fosil sebagai sumber karbon. Bioplastik secara signifikan mengurangi limbah berbahaya yang disebabkan oleh petroplastik, yang tidak hancur selama ratusan tahun, dan membuka era baru dalam teknologi dan industri kemasan.

Namun, pembuatan bahan bioplastik seringkali masih bergantung pada minyak bumi sebagai sumber energi dan bahan-bahan. Contohnya energi yang dibutuhkan untuk mesin pertanian dan pengairan tanaman, untuk memproduksi pupuk dan pestisida, untuk mengangkut hasil panen, untuk memproses bahan mentah, dan akhirnya untuk menghasilkan bioplastik.

Produsen bioplastik Italia, Novamont menyatakan bahwa memproduksi satu kilogram plastarch menggunakan 500 g minyak bumi dan mengonsumsi hampir 80% dari energi yang dibutuhkan untuk menghasilkan polimer polietilen konvensional. Data lingkungan dari NatureWorks, satu-satunya produsen komersial Plastik PLA (asam polilaktat), mengatakan bahwa membuat bahan plastik memberikan penghematan bahan bakar fosil antara 25 dan 68 persen dibandingkan dengan polietilen.

Sebuah studi dari Institut Athena, AS, menyatakan bahwa sebagian produk bioplastik merusak lingkungan hidup karena besarnya energi pembuatannya, namun ada juga produk yang menguntungkan. Ada juga studi lain yang menyatakan bioplastik mewakili 42% pengurangan karbon. Terlihat bahwa masih adanya kontroversi dalam produksi bioplastik terkait lingkungan hidup. Bioplastik merupakan penemuan yang umurnya masih muda, oleh karena itu perlu lebih dikaji dan dikembangkan lagi.

Degradasi Bioplastik

Tingkat degradasi bioplastik bervariasi tergantung suhu, stabilitas polimer, dan tersedianya oksigen. Akibatnya, sebagian besar bioplastik dapat terurai pada kondisi yang dikontrol ketat dalam unit industri kompos. Dalam tumpukan sampah, tanah atau di air, bioplastik masih sulit terdegradasi. Sebuah standar ISO yang disepakati secara internasional, yaitu EN13432, mendefinisikan seberapa cepat dan sampai sejauh mana plastik rusak di bawah kondisi kompos komersial sehingga dapat dikategorikan biodegradable. Standar EN13432 yaitu suatu jenis plastik dengan sampel setebal 2 mm harus terurai 90% menjadi gas CO2 dalam 6 bulan.

Penggunaan Bioplastik

Diperkirakan konsumsi global bioplastik pada tahun 2006 adalah sekitar 85.000 ton. Sementara konsumsi seluruh jenis plasti adalah 12,3 juta ton. Ini berarti biolastik baru mencakup 6,9% dari total plastik dunia. Diharapkan pada tahun 2011, penggunaan biplastik dapat meningkat hingga 1,5 juta ton. Meskipun demikian, bioplastik hanya mencakup sedikit dari pasar petroplastik yang diperkirakan akan meningkat hingga 220 juta ton.

Perbandingan antara bioplastik dan petroplastik ini hanya dapat diubah dengan berubahnya minat pasar. Di Indonesia sendiri, sudah beberapa supermarket yang menggunakan biodegradable bag sebagai pengganti kantong plastik. Kita sendiri sebagai

4 responses to “BioPlastik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s