medium mikrobia

Mikroorganisme dapat ditumbuhkan dan dikembangkan pada suatu substrat yang disebut medium. Medium adalah bahan yang disiapkan khusus untuk pertumbuhan, penyimpanan atau transportasi mikroorganisme atau segala jenis sel lain. Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme tersebut harus sesuai susunanya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya (Volk dan Wheeler, 1993).

Medium dapat digunakan untuk menumbuhkan dan membiakkan mikrobia, untuk  pengujian sifat fisiologi mikrobia, serta untuk melakukan identifikasi mikrobia berdasarkan pola pertumbuhannya. Medium memiliki syarat harus steril, agar tidak ada mikrobia kontaminan yang tumbuh. Selain itu, medium harus memiliki kandungan nutrient dan zat-zat yang sesuai dengan jenis dan tujuan medium tersebut. Nutrien dalam medium harus memenuhi kebutuhan dasar makhluk hidup, yang meliputi air, karbon, energi, nitrogen, mineral dan faktor tumbuh (Label, 2008).

Menurut Pelzcar (1986), berdasarkan kandungannya, jenis-jenis medium adalah :

  1. Medium sintesis yaitu media yang komposisi zat kimianya diketahui jenis dan takarannya secara pasti, misalnya Glucose Agar, Mac Conkey Agar.
  2. Medium semi sintesis yaitu media yang sebagian komposisinya diketahui secara pasti, misanya PDA (Potato Dextrose Agar) yang mengandung agar, dekstrosa dan ekstrak kentang.
  3. Medium non sintesis yaitu media yang dibuat dengan komposisi yang tidak dapat diketahui secara pasti dan biasanya langsung diekstrak dari bahan dasarnya, misalnya Tomato Juice Agar,  medium ekstrak taoge dan medium ekstrak daging.

Beberapa jenis medium berdasarkan fungsinya antara lain:

  1. Basal Medium (medium dasar) adalah medium yang dapat mendukung pertumbuhan hamper semua jenis mikrobia, contohnya adalah nutrient broth.
  2. Differential Medium (medium diferensial), adalah medium yang bila ditumbuhi oleh mikrobia yang berbeda, mikrobia tersebut akan tumbuh dengan ciri khusus sehingga dapat dibedakan.
  3. Inhibitory Medium (medium penghambat), adalah medium yang mengandung zat penghambat sehingga jenis mikrobia tertentu tidak dapat tumbuh atau terhambat pertumbuhannya bila dapat tumbuh
  4. Maintenance Medium (medium pemeliharaan), adalah medium yang memungkinkan pertumbuhan minimal dari mikrobia atau sel, misalnya medium untuk menyimpan sel kelamin.
  5. Selective Medium (medium selektif), adalah medium yang memungkinkan suatu jenis mikrobia tumbuh dengan pesat, sementara jenis mikrobia lain terhambat.
  6. Test Medium (medium uji), adalah medium yang digunakan untuk identifikasi mikrobia, umumnya ditambah dengan substansi tertentu yang menjadi indicator, misalnya medium litmus milk.

Menurut Wilson (2008), beberapa jenis medium berdasarkan bentuk fisiknya antara lain :

  1. Medium padat yaitu media yang mengandung agar 15% sehingga setelah dingin media menjadi padat.
  2. Medium setengah padat yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4% sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, tidak begitu cair. Media semi solid dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang.
  3. Medium cair yaitu media yang tidak mengandung agar, contohnya adalah NB (Nutrient Broth), LB (Lactose Broth).
  4. Diphasic Medium, yaitu medium dengan dua fase, berupa medium dengan dasar padat dan diatasnya dilapisi cairan atau gel.

Menurut Abedon (2006), berdasarkan bentuk dan wadahnya, medium agar dapat dibagi menjadi :

  1. Medium agar miring, menggunakan tabung reaksi yang dimiringkan sekitar 300º
  2. Medium tegak, menggunakan tabung reaksi yang ditegakkan.
  3. Medium petri dish

Medium ada yang sudah tersedia dalam bentuk siap pakai, namun ada juga medium yang dibuat sendiri. Medium dibuat dengan cara mencampurkan komponen-komponennya sesuai jenis dan kebutuhna medium ,kemudian dihomogenisasi. Bila medium bersifat semi-sintetik atau sintetik sehingga mengandung partikel kasar, medium dapat disaring. Setelah itu medium diletakkan pada wadah, kemudian disterilisasi dan siap dipakai (Abedon, 2006)

 

Abedon,  Stephen. 2006. Culturing Microbes. http://mansfield.osu.edu/~sabedon/biol4035.htm. 19 Februari 2010

Pelczar, Michael, 1986, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Singleton dan Sainsbury, 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular Biology 3rd Edition. John Wiley and Sons. Sussex, England.

Volk, dan Wheeler., 1993, Dasar- Dasar Mikrobiologi, Erlangga, Jakarta.

Wilson, Denise. 2008. McGraw Hill Manual of Laboratories. McGraw Companies. USA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s