Cerita tentang Beasiswa Master Tropimundo (Tropical Biology) Part 1

Lama tidak menulis blog setelah saya lulus S1 Biotechnology…

Setelah lulus, saya kerja sebagai volunteer di Yayasan LINI Bali, sambil ngelamar beasiswa buat S2, dengan impian: pengen dapat beasiswa keluar negeri. Kerjaan yang asik, banyak berinteraksi dengan nelayan langsung, survey sampe akhirnya nginjak Raja Ampat, kenalan dengan ilmuwan2 n volunteer dari luar negeri.

Awalnya ngelamar di AusAID buat marine biology, dan udah ngarep banget. Pas Oktober 2013 dapat surat penolakan. Kecewa, tapi sadar diri juga karena AusAid targetnya kan lebih ke PNS sama yg udah pengalaman kerja, sementara saat ngelamar saya masih freshgraduate.

Korek-korek internet, cari beasiswa yang lagi buka, ketemu ini: http://www.tropimundo.eu/

Pas, buka beasiswa untuk biologist, dan penutupan pun tinggal sebulan lagi. Alhasil saya kalang kabut, mana lagi tugas di desa nelayan di Buleleng, internet susah. Modal internet yang sinyalnya sering cuma EDGE, saya pun mendaftar. Mengisi formulir lewat HP. Syukurnya saya udah punya sertifikat TOEFL, passport dan scan dokumen2 lain yg diperlukan.

Salah satu syarat yang paling ribet adalah: kita gak diwawancara, tapi mereka minta 3 orang reccomendator dari bidang akademia atau professional buat diwawancara. Orang pertama, tentu dosen pembimbing skripsi. Orang kedua, Wakil Rektor kampus yg juga dosen ekologi. Orang ketiga? Bingung, antara bos tempat kerja, volunteer expert aquarist dari australia atau siapa.. Tetapi karena bidang akademia lebih diutamain, akhirnya ane minta tolong professor dari USA yg lagi kerja bareng penelitian di Buleleng. Terkumpul sudah 3 orang yg akan menentukan nasib.

Tapi tentu setelah ditolak AusAid, saya gak berharap banyak. Jadi bawaannya selow aja. Eh tau-tau 22 Desember 2013 dapat ucapan selamat keterima untuk program dan beasiswa, dan ucapan selamat Natal. Kalimat terakhir dari koordinator beasiswanya ane masih inget: be ready to pack for Europe!

Saya akan berangkat pada September 2014. Jadi kalau keterima tahun ini, mulainya tahun depan. Sementara tetap ngelanjutin kerja.

Sebelum berangkat, harus melewati proses pembuatan visa yg melelahkan. Sempat ketipu juga karena pake jasa calo, karena waktu harus ngurus saya sedang tugas ke Maluku dan Papua, sama waktu itu mau mendaki Rinjani.

Bikin SKCK aja udah repot, saat itu minta tolong Ayah yang di Kalimantan untuk buat SKCK Polda buat lanjut ke Polri, dan saya harus scan sidik jari. Untuknya bisa scan di Jayapura, dan SKCKnya diterbitkan di Polda Kalbar.

Setelah resign kerja, saya pun buru-buru mengurus semua dokumen, 3 minggu wara-wiri di Jakarta sampai hapal jalur Busway (Thanks Komuta apps).

1 minggu untuk mengejar calo yang masih pegang ijazah ane, ini drama banget. Untungnya ane numpang di rumah sohib ane yang Ayahnya orang TNI AU, keder deh tu calo pas ane diantarin buat kerumah calonya. Besoknya ijazah ane buru2 dibalikin meski uang gak kembali. Waktu itu sampe nangis sama kegoblokan sendiri kenapa percaya calo. Peringatan buat temen-temen, kalo ngurus administrasi janganlah calo-caloan. Mending usrus sendiri

2 minggu selanjutnya persiapan sendiri buat visa:  SKCK di Polri (cuma perlu 2 jam), Legalisir ijazah dan transkrip nilai : lewat DIKTI (3 hari), lanjut ke Kemenkumham (3hari), lanjut ke Kemenlu (2 hari), Proses di Kedubes Belgia (sehari).

Untungnya ada barengan teman dari Jakarta yg dapat beasiswa bidang komputer dan ke Belgia juga, jadi ada yang ngurusin tiket. Oya, tiket dan ngurus visa harus bayar sendiri, kalo udah sampai di Eropa nanti diganti. Jadi sebelum berangkat harus menukar Rupiah ke Euro dulu di Jakarta.

Nilai beasiswa, kalau dirupiahin berasa fantastis:

  • Uang kuliah 2 tahun 16.000 EUR
  • Uang idup (kost ma makan) 1000 EUR/bulan selama 2 tahun = 24.000 EUR
  • Uang jalan tiap semester 2000 EUR = 8.000 EUR

Total 48.000 EUR. Kalau dirupiahin sekitar 700juta. Eh buset, saya kerja volunteer aja gaji 1,5 juta sebulan. Mendadak berasa kaya, udah ngebayangin kalau 700 juta itu ditukerin 1000 rupiah kertas, bisa disusun buat jadi kasur. Meskipun nyatanya 1000 EUR di Eropa itu standar idup anak kost Jogja.

Lebih asik lagi, belajarnya tentang tropical ecology. Trayeknya semester pertama di Belgia, semester kedua mestinya di Kamerun (karena berbagai isu akhirnya dialihkan ke Malaysia), dan sekarang semester 3 di Italy. Semester depan balik ke Belgia.

12 September akhirnya saya berangkat, dilepas sama pacar di Soekarno-Hatta. LDR deh. Masih bertahan dan menguat sampai sekarang❤ gak penting ih

Ini kali pertama ane keluar dari batas NKRI. Syukurlah teman ane bukan kali pertama keluar negeri, jadi ane ngikut aja, sehingga gak perlu terlihat sepok/kampungan/ndeso.  Pesawat internasional ajib banget, kayak ayam pedaging tiap 4 jam dikasih makanan bergizi dan enak. Minuman free flow, dingin jadinya bolak-balik ke WC. Tiap angku ada TV buat nonton film. Pramugaranya kyk butler, bapak2 tua pake jas. Sementara ane pake baju gembel, tapi dilayanin dengan ramah dan senyuman.

Akhirnya mendarat di Belgia. Hal pertama: dingin. Hal kedua: kita salah jalan menuju penginapan, nyeret koper berat dan kelelahan. Disitu saya merasa sedih. Hal ketiga: ada mbak-mbak bule kekar yang bantu nyariin arah dan nyeretin koper, jadi stigma orang Eropa itu individualis dan gak suka menolong itu salah. Hal keempat: apartemen tempat kami tinggal lagi tengah proses pertukangan, dan blok saya mati lampu. Akhirnya tidur di kamar teman pakai sleeping bag.

Sekian dulu pengalaman sampai menjejak tanah Eropa~

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s